Seni Sebagai Pembebasan
Rekonstruksi lugas dan kritis atas teori estetika Theodor Adorno.
Baca catatanSeniman / Kolektor / Kritikus
Seni adalah bagian hidup dari Syakieb Sungkar. Sejak kecil ia suka menggambar, mencintai lukisan, menikmati bentuk dan warna. Kemudian ia sering membaca buku-buku seni dan mengunjungi pameran. Ketika ia dewasa dan memiliki penghasilan, sedikit demi sedikit ia mengumpulkan karya seni. Seleranya pun berubah-ubah dengan bertambahnya pengetahuan dan pergaulan. Dalam sepuluh tahun belakangan ini, ia mulai berkarya: membuat lukisan, drawing, grafis, dan instalasi patung. Ia kemudian mengambil Master Filsafat demi mendalami ilmu seni rupa. Ia pun mendirikan Jurnal Filsafat Online jurnaldekonstruksi.id sebagai wadah berfikir, menulis dan menganalisa. Selain ia rajin menulis di jurnal ilmiah tersebut tentang filsafat politik dan seni, ia juga menulis di media masa seperti Kompas dan Jakarta Post. Beberapa buku yang telah ditulisnya adalah Seni Sebagai Pembebasan, Jejak Lukisan Palsu, dan Sketsa Kebudayaan Kontemporer. Belakangan ini ia juga mulai menapak menjadi Kurator Seni, seperti dalam pameran “Jakarta Provoke #3” dan “Bang Ali 100 Tahun”. Walau ia sudah menjadi seniman, penulis, dan kurator, ia tetap mengakuisisi karya-karya baru untuk kelengkapan koleksinya.
01 — Jalan
Jalan Syakieb menuju lukisan tidak dimulai dari studio. Ia belajar teknik dan telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung, filsafat di STF Driyarkara, lalu bekerja lama sebagai eksekutif telekomunikasi.
Minat pada gambar sudah ada sejak kecil: buku seni dari ayah, musik dari paman, lalu artikel Picasso dan Dalí di majalah Time. Melihat datang lebih dulu. Melukis menyusul.
02 — Salon
Sembilan lukisan di situs ini diambil dari katalog pameran. Foto di beranda adalah potret Syakieb Sungkar.
Masriadeep
2023 · Cat minyak di kanvas · 80 × 100 cm
Lihat karya
Making out in the Sky
2023 · Cat minyak di kanvas · 150 × 150 cm
Lihat karya
Yesus di Masa Pandemi
2023 · Cat minyak di kanvas · 145 × 145 cm
Lihat karya
Moonlight
2023 · Cat minyak di kanvas · 120 × 145 cm
Lihat karya
Barbie World
2023 · Cat minyak di kanvas · 150 × 150 cm
Lihat karya
Resurrection
2023 · Cat minyak di kanvas · 145 × 145 cm
Lihat karya
Imaginary Homeland
2023 · Cat minyak di kanvas · 150 × 150 cm
Lihat karya
Bukan Pasar Malam
2023 · Cat minyak di kanvas · 120 × 170 cm
Lihat karya
03 — Motif
Kucing biru tosca menjadi kosakata visual yang mudah dikenali. Lisa the Queen Cat, Princess Meow, dan The Cat Man muncul di lukisan dan patung resin: kasih sayang pada hewan peliharaan, sekaligus kesepian kaum urban. The Cats World membawa motif itu ke pameran, antara lain bersama Zen1, Neo Gallery, dan ICAD by the Bay.
The
Cats
World
Lukisan dan patung resin. Kucing sebagai kasih sekaligus kesepian urban.
04 — Pustaka
Rekonstruksi lugas dan kritis atas teori estetika Theodor Adorno.
Baca catatanCatatan investigasi tentang reproduksi lukisan maestro, sekitar 2014.
Baca catatanEsai tentang kapitalisme seni rupa dan sejarah yang disusutkan menjadi pemasaran.
Baca catatan05 — Kronologi
Pameran tunggal: 5 lukisan dan 4 patung tentang manusia dan kucing.
Lukisan surealistik di Art Jakarta. Langit hijau tosca menandai udara yang rusak.
Pameran tunggal kedua: 16 lukisan surealistik tentang alam bawah sadar dan kritik sosial.
Pameran tunggal pertama: 16 lukisan realistik tentang sehari-hari dan dunia seni.
06 — Posisi
Posisi editorial, bukan kutipan
Koleksi mengajarinya melihat.
Kritik mengajarinya bertanya.
Lukisan memberi pertanyaan itu bahasa lain.
Praktiknya hidup di antara ingatan, humor, sejarah seni, citra populer, pengamatan sosial, dan kasih sayang. Kolektor, kritikus, dan pelukis bukan tiga karier yang dijajarkan. Itu satu cara memperhatikan yang berlanjut.
04 — Menulis
Esai dan tulisan Syakieb, dibaca dari berkas PDF.
03 — Khazanah
Tulisan orang lain tentang karya Syakieb Sungkar.
Tulisan akan menyusul.