Seniman / Kolektor / Kritikus

Syakieb Sungkar

Seni adalah bagian hidup dari Syakieb Sungkar. Sejak kecil ia suka menggambar, mencintai lukisan, menikmati bentuk dan warna. Kemudian ia sering membaca buku-buku seni dan mengunjungi pameran. Ketika ia dewasa dan memiliki penghasilan, sedikit demi sedikit ia mengumpulkan karya seni. Seleranya pun berubah-ubah dengan bertambahnya pengetahuan dan pergaulan. Dalam sepuluh tahun belakangan ini, ia mulai berkarya: membuat lukisan, drawing, grafis, dan instalasi patung. Ia kemudian mengambil Master Filsafat demi mendalami ilmu seni rupa. Ia pun mendirikan Jurnal Filsafat Online jurnaldekonstruksi.id sebagai wadah berfikir, menulis dan menganalisa. Selain ia rajin menulis di jurnal ilmiah tersebut tentang filsafat politik dan seni, ia juga menulis di media masa seperti Kompas dan Jakarta Post. Beberapa buku yang telah ditulisnya adalah Seni Sebagai Pembebasan, Jejak Lukisan Palsu, dan Sketsa Kebudayaan Kontemporer. Belakangan ini ia juga mulai menapak menjadi Kurator Seni, seperti dalam pameran “Jakarta Provoke #3” dan “Bang Ali 100 Tahun”. Walau ia sudah menjadi seniman, penulis, dan kurator, ia tetap mengakuisisi karya-karya baru untuk kelengkapan koleksinya.

Basis
Jakarta · Indonesia
Praktik
Lukisan kontemporer
Juga
Kolektor · Kritikus · Penulis
Syakieb Sungkar berdiri di antara lukisannya.
Syakieb Sungkar.

01 — Jalan

Sebelum membuat lukisan,
ia menghabiskan bertahun-tahun untuk melihatnya.

Jalan Syakieb menuju lukisan tidak dimulai dari studio. Ia belajar teknik dan telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung, filsafat di STF Driyarkara, lalu bekerja lama sebagai eksekutif telekomunikasi.

Minat pada gambar sudah ada sejak kecil: buku seni dari ayah, musik dari paman, lalu artikel Picasso dan Dalí di majalah Time. Melihat datang lebih dulu. Melukis menyusul.

  1. 01Amati
  2. 02Koleksi
  3. 05Melukis

Baca riwayat lengkap

03 — Motif

Masuk ke dunia Lisa

Kucing biru tosca menjadi kosakata visual yang mudah dikenali. Lisa the Queen Cat, Princess Meow, dan The Cat Man muncul di lukisan dan patung resin: kasih sayang pada hewan peliharaan, sekaligus kesepian kaum urban. The Cats World membawa motif itu ke pameran, antara lain bersama Zen1, Neo Gallery, dan ICAD by the Bay.

  • Lisa the Queen Cat
  • Princess Meow
  • The Cat Man

The
Cats
World

Lukisan dan patung resin. Kucing sebagai kasih sekaligus kesepian urban.

04 — Pustaka

Tulisan tentang seni

05 — Kronologi

Pameran terpilih

2026

Pameran tunggal: 5 lukisan dan 4 patung tentang manusia dan kucing.

2024

Lukisan surealistik di Art Jakarta. Langit hijau tosca menandai udara yang rusak.

2023

Pameran tunggal kedua: 16 lukisan surealistik tentang alam bawah sadar dan kritik sosial.

2021

Pameran tunggal pertama: 16 lukisan realistik tentang sehari-hari dan dunia seni.

Seluruh pameran

06 — Posisi

Posisi editorial, bukan kutipan

Koleksi mengajarinya melihat.

Kritik mengajarinya bertanya.

Lukisan memberi pertanyaan itu bahasa lain.

Praktiknya hidup di antara ingatan, humor, sejarah seni, citra populer, pengamatan sosial, dan kasih sayang. Kolektor, kritikus, dan pelukis bukan tiga karier yang dijajarkan. Itu satu cara memperhatikan yang berlanjut.

  • Kolektor Ia belajar cara melihat.
  • Kritikus Ia belajar cara bertanya.
  • Seniman Ia mengubah pertanyaan itu menjadi gambar.
Kontak