01 — Latar profesional
Teknik, lalu telekomunikasi
Pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, disusul karier panjang sebagai eksekutif di perusahaan telekomunikasi.
Personal branding
Kolektor yang menjadi pelukis, tanpa melepaskan mata kritikus.
01 — Latar profesional
Pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, disusul karier panjang sebagai eksekutif di perusahaan telekomunikasi.
02 — Kritik
Kolektor, kritikus, penulis, dan penelusur soal keaslian dalam seni rupa Indonesia. Latihan filsafat di Driyarkara membuat analisis seninya gesit.
03 — Seniman
Pelukis kontemporer dengan surealisme, parodi, budaya pop, satir, dan pengamatan filosofis. Studio datang sesudah arsip.
Syakieb Sungkar adalah kolektor seni rupa, kritikus, penulis, dan pelukis kontemporer. Ia dikenal karena peralihan yang jarang di medan seni rupa Indonesia: dari seseorang yang mengoleksi lukisan menjadi seniman yang aktif berpameran.
Kecintaan pada seni tidak membuatnya menempuh pendidikan studio. Ia belajar teknik dan telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung, serta filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sebelum kanvas, ada karier panjang sebagai eksekutif di beberapa perusahaan telekomunikasi.
Apresiasi itu tumbuh sejak kecil. Ayahnya sering memperlihatkan buku seni. Pamannya seorang musisi. Ketertarikan pada seni rupa modern terpicu ketika, masih kecil, ia membaca artikel tentang Pablo Picasso dan Salvador Dalí di majalah Time.
Sebagai kolektor ia mengagumi dan mengoleksi karya maestro Indonesia: S. Sudjojono, Ahmad Sadali, Mochtar Apin, Affandi, dan A.D. Pirous, serta pelukis dan pematung kontemporer. Pada 2012–2014 ia, bersama pengamat lain, menelusuri sindikat dan studio reproduksi yang meniru maestro Indonesia. Pengalaman itu menjadi buku Jejak Lukisan Palsu di Indonesia.
Anna Sungkar, pasangannya sekaligus kuratornya, membuka jalan ke cat dan kanvas. Lukisannya meminjam surealisme pop dan kubisme, pop art yang distilisasi, serta jejak anime dan komik. Di dalamnya ada metafora, parodi sejarah seni, dan kritik sosial.
Karakter yang terus kembali adalah kucing biru tosca: Lisa the Queen Cat, Princess Meow, dan The Cat Man, dalam lukisan maupun patung resin. Karyanya juga dibawa ke Art Jakarta, Art Garden, Art Moment, ICAD, Jakarta Provoke, serta galeri seperti Zen1, Neo, Selasar Sunaryo, Museum Pasifika, Art-1, dan Titik Dua.
Arsip
Mengoleksi adalah latihan perhatian. Mata dilatih jauh sebelum gambarnya sendiri dimulai.
Catatan lapangan
sekitar 2012–2014
Sekitar 2012–2014 Syakieb ikut memeriksa pertanyaan seputar lukisan palsu dan jaringan reproduksi maestro Indonesia. Yang dilihat bukan satu gambar semata, melainkan rantai klaim yang membuat sebuah lukisan lolos sebagai apa yang ia katakan.
Pernyataan tematik, bukan kutipan
Keaslian bukan hanya soal tanda tangan. Ia soal sejarah, material, provenans, dan kepercayaan.
Catatan ini menggambarkan masa penyelidikan. Buku yang lahir dari sana berjudul Jejak Lukisan Palsu di Indonesia (2014). Ini bukan vonis atas seseorang.
Studio
Setelah bertahun-tahun sebagai kolektor, kritikus, dan penulis, Syakieb mulai melukis. Anna Sungkar mendorong pertemuan dengan cat dan kanvas, dan menguratori belokan itu.
Gambar-gambarnya memakai kosakata surealis, parodi, dan rujukan sejarah seni, berdampingan dengan budaya pop. Pengamatan sosial, satir, dan absurditas berbagi permukaan dengan pop art yang distilisasi serta jejak komik dan anime.
Pameran sendiri
Galeri Titik Dua, Ubud · 16 Oktober – 6 November 2021
Pameran tunggal pertama: 16 lukisan realistik tentang sehari-hari dan dunia seni.
Cemara 6 Galeri — Toeti Heraty Museum, Jakarta · 3–17 Juni 2023
Pameran tunggal kedua: 16 lukisan surealistik tentang alam bawah sadar dan kritik sosial.
Galeri Zen1, Art Jakarta, JIExpo Kemayoran · 17–19 November 2023
Lukisan surealistik di Art Jakarta. Langit hijau tosca menandai udara yang rusak.
Indonesia Design District, PIK 2 · Oktober 2026
Pameran tunggal: 5 lukisan dan 4 patung tentang manusia dan kucing.