Blog · 20 November 2023

Skena yang menyusut menjadi etalase

Ketika sejarah seni rupa hanya tersisa sebagai kalimat pemasaran di balai lelang.

Esai Skena Seni Rupa Indonesia (2023) berangkat dari ketidaknyamanan yang sederhana: sejarah seni terlalu sering dipotong sampai muat di dalam brosur. Nama maestro, gaya, dan bahkan luka zaman diubah menjadi keterangan lot.

Yang dikritik bukan adanya pasar. Pasar sudah lama bagian dari hidup karya. Yang dikritik adalah penyusutan: seolah nilai sebuah lukisan selesai bila ia bisa diceritakan dalam satu kalimat yang menjual.

Latihan filsafat membuat argumen ini tidak berhenti pada keluhan. Estetika, dalam jejak Adorno yang juga dibaca di Seni Sebagai Pembebasan, menolak menjadi pelayan selera yang sudah jadi. Seni masih bisa mengganggu cerita rapi yang disusun pasar tentang dirinya sendiri.

Catatan blog ini hanyalah pintu. Argumen yang lebih panjang ada di esai itu, di halaman tulisan.

Kontak