Blog · 12 Juni 2024

Apa yang dilihat ketika lukisan diragukan

Penelusuran 2012–2014 tidak dimulai dari satu tanda tangan, melainkan dari rantai kepercayaan.

Sekitar 2012 sampai 2014, pertanyaan tentang lukisan palsu tidak lagi bisa dijawab dengan perasaan. Ada studio, ada jaringan, ada karya maestro Indonesia yang ditiru sampai pasar sendiri kesulitan membedakan salinan dari yang diklaim asli. Syakieb ikut menelusurinya bersama pengamat lain, sesudah geger kasus museum di Magelang.

Melihat, dalam kerja itu, berarti membongkar urutan. Tanda tangan hanyalah jejak pertama. Lalu material, provenans, sejarah pindah tangan, dan akhirnya kepercayaan: apa yang diminta untuk dipercaya oleh penonton, kolektor, dan pasar.

Jejak Lukisan Palsu di Indonesia (2014) adalah tulisan dari masa itu. Buku ini tidak menggantikan putusan hukum. Ia menyimpan cara bertanya, supaya keaslian tidak disusutkan menjadi soal rasa.

Sikap yang sama kemudian terbawa ke kanvas. Parodi di Masriadeep, misalnya, tidak menuding satu orang. Ia memperlihatkan panggung tempat nama, harga, dan cerita saling berebut.

Kontak